Showing posts with label FAMILY. Show all posts
Showing posts with label FAMILY. Show all posts

Tuesday, 12 November 2013

Healing Your Family Tree


Setelah pasangan memasuki pernikahan, maka hubungan pernikahan  dengan sendirinya menuntut agar pasangan suami-isteri memiliki kekuatan dan ketrampilan yang dibutuhkan untuk mewujudkan pernikahan bahagia. 

Dengan kata lain, pernikahan bahagia tidak terjadi secara otomatis.

Biasanya, masalah-masalah yang dihadapi oleh pasangan antara lain : 
  • Pasangan akan menghadapi tekanan-tekanan baru, yang bisa berasal dari luar pernikahan, dari dalam pernikahan, atau bahkan dari hal-hal yang sudah lama terpendam jauh di dalam diri mereka masing-masing. Ditambah tuntutan untuk penyesuaian diri agar hidup harmonis, untuk memberi dukungan satu sama lain, menyeimbangkan tugas-tugas karier, membesarkan anak-anak, semuanya itu menjadi kompleks.
  • Banyak pasangan terkejut ketika mereka mendapati bahwa konflik lama yang belum terselesaikan dengan orangtua atau saudara kandung akan muncul ke permukaan dalam hubungan pernikahan. 
  • Pola-pola perilaku yang negatif dari orangtua tanpa sadar diwariskan dan terulang pada kehidupan keluarga pasangan baru. 
Jika kita tidak melihat pola warisan keluarga asal kita, pola-pola keturunan tersebut akan mudah berulang. 
Read More..

Saturday, 6 February 2010

Penghalang-penghalang Mezbah Keluarga


Memasuki tahun 2010, di mana merupakan “Tahun Pemulihan dan Kelimpahan”, kita sangat percaya bahwa Tuhan rindu memulihkan keluarga kita, baik pemulihan hubungan antara suami istri maupun pemulihan hubungan orang tua dan anak. Bahkan kelimpahan akan Tuhan sediakan, baik kelimpahan secara rohani maupun jasmani.

Tuhan pasti sangat rindu untuk memulihkan, memberkati, memberikan pertolongan, perlindungan dan pengarahan bagi rumah tangga kita.
Namun, hal ini sulit terjadi secara instan. Kita membutuhkan Dia sebagai Sumber dari segalanya. Kita perlu menghadirkan Tuhan dalam keluarga kita.

Sayangnya, banyak suami isteri yang rajin ke gereja setiap hari Minggu namun tidak pernah menghadirkan Tuhan dalam rumah tangganya.
Di sinilah penyebab utama sesungguhnya mengapa pemulihan dalam keluarga menjadi sulit. Banyak masalah keluarga yang tidak terselesaikan, bahkan kita merasa bahwa keluarga kita sedang berada dalam kegelapan.
Bayangkan apabila kita sedang berjalan dalam kegelapan dan tidak ada cahaya, kita pasti akan bingung harus berjalan ke arah mana ?

Read More..

Sunday, 3 January 2010

Tahun Baru, Komitmen Baru


Di tahun yang baru, tepatlah jika kita juga memulai komitmen yang baru, terutama bagaimana kita melihat keluarga kita sebagai bagian dari rencana Tuhan.
Keluarga kita adalah untuk menggenapi misiNya di bumi, yakni melahirkan generasi-generasi baru yang takut akan Tuhan, dan melakukan tugas dan pekerjaan dengan cara-cara yang excellent dengan tujuan memberkati orang lain.
Tugas ini sesungguhnya diberikan kepada pasangan suami istri dan anak-anak mereka.

Suami istri harus terus-menerus membangun komitmen cinta yang kuat dari hari ke hari.
Menatap setiap masalah yang terjadi dalam keluarga secara bersama-sama.
Mengambil dan memutuskan cara yang terbaik dengan bersama-sama.
Selalu sepakat dalam memutuskan pendidikan yang terbaik untuk anak-anak mereka.
Juga sejalan dalam memutuskan tujuan ekonomi keluarga untuk hari depan yang lebih baik dan cemerlang.

Tugas ini tidaklah 'murah' dan mudah.
Suami istri perlu memiliki hati yang sama-sama mau dibentuk.
Tidak pernah berhenti belajar untuk saling memahami satu sama lain.
Suami yang sadar betul tanggung jawab dan otoritas sebagai seorang kepala keluarga yang dapat mengambil keputusan terbaik berdasarkan hikmat Tuhan bagi keluarganya.
Demikian juga istri yang menjadi penolong yang sepadan sehingga sama-sama melangkah dalam tujuan Ilahi yang benar.

Sebagai keluarga kristen yang patuh dan taat dengan perintah Tuhan, Alkitab tentunya menjadi penuntun terbaik dalam mencari cara-cara dan tips dalam belajar, menilai keadaan, memutuskan suatu perkara bahkan menerima janji-janji Ilahi untuk hidup dalam kelimpahan.
Tuhan sesungguhnya menulis begitu banyak ayat dalam Firman Tuhan yang dapat menguatkan dan meneguhkan hati setiap suami, istri maupun anak.
Oleh Tuhan, kita dibekali dengan banyak sekali ayat Firman Tuhan yang dapat dijadikan pedoman dalam menjalani kehidupan keluarga kita.

Membangun sebuah keluarga excellent dalam segala hal, harus dimulai dari memperbaiki kualitas hubungan suami dan istri terlebih dahulu, yang dibangun di atas persekutuan dengan Tuhan dalam mezbah keluarga.
Tuhan akan berdiri di belakang suami dan isteri untuk mendorong agar pasangan terus maju dan tidak menyerah dalam menghadapi tantangan.
Tuhan juga akan berdiri di tengah suami dan istri untuk menjadi sahabat yang dapat diajak berbagi dan menumpahkan semua beban-beban hidup yang diterima.
Lebih dari pada itu, Tuhan juga akan berdiri di depan suami istri untuk menjadi pemimpin yang baik yang menuntun keluarga menuju tujuan yang sudah ditetapkan oleh Tuhan.

Ketika kita berhasil membangun kualitas hubungan suami istri yang baik, percayalah bahwa kita akan memiliki hikmat dalam mendidik anak kita.
Kita akan diberikan kemampuan untuk menjadi ayah yang baik dan ibu yang bijak bagi anak-anak kita.
Dan percaya jugalah bahwa ketika kita mendidik anak kita dengan cara-cara yang benar, kita tidak perlu khawatir dengan masa depan mereka.
Karena nilai yang sudah kita tanamkan untuk mereka sejak kecil, dapat menjadi bekal bagi dalam mengambil keputusan hidup untuk diri mereka sendiri.

Mulai dari titik inilah sebenarnya, berkat Tuhan yang berlimpah akan mulai dicurahkan untuk keluarga.
Tuhan berjanji bahwa berkatNya tidak akan ditangguhkan untuk keluarga-keluarga yang membangun kehidupannya di atasa dasar Firman Tuhan.
Berkat Tuhan secara jasmani, rohani dan materi akan mengalir dan kita terheran-heran dengan apa yang Tuhan lakukan dalam keluarga kita.

Hari ini, buatlah komitmen yang baru dengan Tuhan untuk memperhatikan keluarga kita lebih dari pekerjaan dan pelayanan rohani anda sekalipun.

by : PETER JACK KAMBEY
Read More..

Friday, 6 November 2009

Mencegah Lebih Baik daripada Mengobati


Apa yang saya tonton di Discovery Channel benar-benar mengagetkan saya.
Bagaimana tidak, banyak anak-anak dengan usia antara tujuh sampai lima belas tahun dikirim orangtuanya ke sejenis Brat Academy di China.
Dalam sekolah ini, anak-anak sengaja dijauhkan dari orang tua dan mereka dididik oleh guru-guru dengan latar belakang militer.
Mereka dilatih ala militer, di mana mereka harus berlaku patuh, disiplin dan menerima hukuman fisik ketika mereka melakukan kesalahan.

Yang saya persoalkan di sini bukanlah sekolah militernya karena tujuan pendidikan dari sekolah ini baik dan mulia.
Mereka adalah guru-guru berdedikasi tinggi yang memiliki niat baik untuk mengubah karakter anak-anak yang tidak patuh pada orang tua menjadi patuh dalam lingkungan sekolah ala militer.

Hal yang mengejutkan saya adalah bagaimana bisa orang tua yang sudah putus asa dalam mendidik anaknya, lebih memilih Brat Academy ini sebagai alternatif terakhir demi mendidik anaknya menjadi anak yang patuh dan menghargai orang tuanya.

Inikah harga yang harus dibayar oleh sebuah negara yang ekonominya bertumbuh dahsyat dalam sepuluh tahun terakhir?
Sudah lunturkah nilai-nilai budaya keluarga yang banyak dianut oleh negara-negara timur?
Apakah perbaikan ekonomi selalu berkorelasi positif dengan hancurnya nilai-nilai dalam tatanan keluarga?
Sekiranya suatu hari Indonesia pun mengalami pertumbuhan ekonomi yang luar biasa, apakah dampak yang sama akan melanda anak-anak di Indonesia?

Saya berpikir, seandainya Indonesia pun mengalami pertumbuhan ekonomi sebaik China, orang tua Indonesia mungkin akan mengalami hal yang sama.
Orang tua yang terlalu sibuk dalam pekerjaan akhirnya mengabaikan pendidikan anak sejak dini.
Ketika anaknya bertumbuh besar dan dewasa, pada akhirnya mereka hanya menjadi pemberontak, tidak disiplin dan tidak menghormati orang tua.

Kini, saatnya kita sebagai orang tua, marilah kita renungkan mengenai hal ini.
Jangan sampai nasi sudah menjadi bubur. Lakukan sebelum terlambat !
Apakah selama ini kita lalai menunaikan tugas untuk mendidik anak sejak mereka kecil?
Apakah kita sudah mulai melatih mereka untuk disiplin, taat pada orang tua terutama kepada Tuhan?
Apakah anak kita sudah mendapatkan kasih sayang dan perhatian yang sangat mereka butuhkan saat-saat ini?
Apakah mereka sudah mendapatkan bekal pendidikan dan pengetahuan yang terbaik dari orang tua sebelum mereka masuk dalam usia dewasa?

Anak tetaplah anak kita sampai mereka setua apapun.
Namun ingatlah, mendidik dan melatih anak akan menjadi sangat sulit setelah mereka melewati umur 15 tahun.
Setelah 15 tahun mereka akan menjadi anak dengan diri mereka sendiri yakni anak yang dapat mengambil keputusan sendiri.
Setelah usia tersebut, mereka mungkin akan menganggap fungsi orang tua hanya sebagai pelengkap dan teman diskusi dalam mempertimbangkan setiap keputusan mereka.

Itu sebabnya, kita sudah harus mulai mendidik dan melatih anak kita untuk hidup dalam keteraturan, disiplin, hormat pada orang tua, menghargai teman dan orang lain.
Bahkan lebih daripada itu, kita juga harus membekali mereka dengan pendidikan yang baik, ilmu pengetahuan yang sesuai dengan bakatnya, atau bahkan melayani Tuhan sesuai dengan talentanya.

Sebagai orang tua, ini sebenarnya bukanlah pekerjaan yang sulit, hanya saja kita perlu memulai sedini mungkin, yakni sekarang ini !
Menjadi orang tua itu adalah sebuah kehormatan yang diberikan Tuhan untuk menjadi wakil Tuhan di bumi untuk menciptakan sebuah generasi yang dapat menaklukan bumi dan yang selalu menjadi pemenang !

Sekedar mengingatkan....satu keluarga seperti keluarga raja Salomo dalam Alkitab dapat menghancurkan satu kota bahkan satu negara.
Sebaliknya satu kerajaan dapat diselamatkan oleh satu keluarga seperti Yusuf.

Jadi, tentukanlah sekarang....
Selamatkan keluarga terutama anak-anak kita sebelum kita terlalu sibuk dengan pekerjaan kita!
Bagaimanapun juga keluarga jauh lebih penting daripada pekerjaan kita.
Pastikan selalu nilai-nilai positif selalu dibangun diantara suami, istri dan anak-anak kita.

Jika tidak, kita mungkin terpaksa harus mengirim anak kita ke Brat Akademi.
Uhhhh....ingat kata dokter, mencegah lebih baik daripada mengobati !

Tuhan Yesus memberkati !!!

by : PETER JACK KAMBEY
Read More..

Thursday, 30 July 2009

A Family Can Give Impact for the Nation



Pernahkah kita berpikir bahwa pernikahan kita dapat berdampak bagi sebuah generasi?
Atau berdampak bagi sebuah bangsa?

Mungkin kita sering mendengar sebuah kalimat :

KELUARGA YANG KUAT MEMBANGUN MASYARAKAT YANG KUAT.
MASYARAKAT DAN GEREJA YANG KUAT MEMBANGUN KEBUDAYAAN YANG KUAT.
KEBUDAYAAN YANG KUAT MEMBANGUN NEGARA YANG KUAT.

Marilah kita melihat contoh nyata dari 2 keluarga sebagai bukti dari pernyataan tersebut :

Max Jukes adalah seorang ateis yang menikah dengan seorang wanita kafir (tidak mengenal Tuhan).
Dari sekitar 560 keturunannya ditelusuri :

300 orang mati sebagai pengemis,
150 orang menjadi penjahat, 7 orang di antaranya pembunuh,
100 orang terkenal sebagai pemabuk,
dan lebih dari setengah keturunannya yang perempuan adalah pelacur.
Keturunan Max Jukes menyebabkan pemerintah Amerika Serikat merugi sekitar $1.25 juta dengan nilai dolar pada abad ke-19.

Jonathan Edwards adalah seorang yang hidup pada masa yang sama dengan Jukes.
Ia adalah seorang Kristen yang setia.
Dia selalu mengutamakan Allah dalam kehidupannya.

Ia menikah dengan seorang wanita muda yang saleh,
dan dari 1.394 orang keturunannya ditelusuri :


295 orang lulus dari universitas, di antaranya 13 orang menjadi rektor dan 65 orang professor.
3 orang dipilih sebagai senator Amerika Serikat,
3 orang sebagai gubernur negara bagian,
dan yang lainnya diutus ke negara-negara asing sebagai hamba-hamba Tuhan.
30 orang menjadi hakim,
100 orang menjadi pengacara Negara bagian,
1 orang menjadi dekan sebuah sekolah tinggi hokum terkenal.
75 orang menjadi perwira angkatan bersenjata,
100 orang menjadi misionaris, pengkhotbah dan penulis terkenal,
80 orang lagi bekerja di beberapa kantor pemerintah, tiga di antaranya adalah walikota kota-kota besar, satu adalah seorang pengawas keuangan Departemen Keuangan Pemerintah Amerika Serikat,
dan seorang lagi adalah Wakil Presiden Amerika Serikat.

Tidak satu orang pun keturunan keluarga Edwards merugikan pemerintah Amerika Serikat.

Nah, mau tidak mau keluarga kita adalah ikatan nilai dari generasi satu kepada generasi berikutnya.
Kita adalah salah satu mata rantai dari rantai yang sangat panjang dari lingkaran generasi.

Firman Tuhan menuliskan, “Allah memberkati mereka, lalu Allah berfirman kepada mereka : Beranak-cuculah dan bertambah banyak; penuhilah bumi dan taklukkanlah itu, berkuasalah atas ikan-ikan di laut dan burung-burung di udara dan atas segala binatang yang merayap di bumi.” (Kejadian 1:29)

Artinya, Tuhan rindu melalui keluarga Ilahi dan melalui keturunan Ilahi, kita menghasilkan generasi yang menegakkan Kerajaan Allah di muka bumi ini.

Oleh karena itu, marilah kita menentukan pilihan :

1. Apakah kita ingin menjalani kehidupan pernikahan tanpa tujuan dan tanpa arah ?
2. Bagaimana kita menjalani kehidupan pernikahan kita dan keluarga kita ?
3. Nilai-nilai apa yang akan kita bangun dalam keluarga kita ?
4. Warisan apakah yang akan kita tinggalkan bagi generasi berikutnya ?

Walaupun ada mata rantai negatif dari masa lalu keluarga kita, putuskanlah, tinggalkanlah dan kejarlah rencana Allah yang dahsyat bagi keluarga kita dan generasi yang akan datang !!!
Read More..

Tuesday, 17 February 2009

Home Sweet Home


Pernahkah anda bermimpi mengenai sebuah Rumah Idaman?
Rumah Idaman seperti apakah yang anda inginkan?

Mungkin kita sering berpikir, seandainya rumah saya lebih besar, seandainya rumah saya seindah rumah tetangga saya, seandainya perabotan saya lebih lengkap?

Tetapi, tahukah bahwa banyak orang yang memiliki rumah / tempat tinggal ( house ), bahkan memiliki rumah yang mewah berisi perabotan yang mewah dan lengkap, tetapi belum tentu merasakan “ kebahagiaan ” di dalam keluarga.

Sehingga seringkali rumah kita hanya menjadi HOTEL, tempat kita menginap atau tidur di malam hari, namun kita tidak betah tinggal di dalamnya. Ataupun rumah kita menjadi ARENA PERTARUNGAN, di mana banyak konflik terjadi, atau pun sebagai tempat pelampiasan kemarahan satu sama lain.
Atau ... sebagai PUSAT HIBURAN, di mana anggota keluarganya lebih banyak mengisi waktu di rumah dengan menonton televisi dan film, bermain game atau internet.

Mengapa demikian ?
Karena kebahagiaan dalam keluarga, tidak ditentukan dari besarnya atau mewahnya sebuah rumah, tapi bagaimana kita membangun dan menciptakan rumah kita menjadi “ home sweet home”.

Ada sebuah kalimat :

“ Home is not just a place you live – it’s a place you grow up in.”
( Christina )

"House is where the building is but home is where the heart is."
( Clavel )

Marilah kita : make a HOUSE a HOME

Mengapa hal ini penting ?

Di dalam rumah, dibangunlah keluarga yang kuat.
Keluarga yang kuat membangun masyarakat dan gereja yang kuat.
Masyarakat dan gereja yang kuat membangun kebudayaan yang kuat.
Kebudayaan yang kuat membangun negara yang kuat.

Bagaimana caranya ?

Di dalam Mazmur 127 : 1, menuliskan,

“ Jikalau bukan TUHAN yang membangun rumah, sia-sialah usaha orang yang membangunnya; jikalau bukan TUHAN yang mengawal kota, sia-sialah pengawal berjaga-jaga. “

Hal yang utama dalam membangun rumah / keluarga, adalah melibatkan Tuhan di dalam keluarga kita.
Jika tidak, sia-sialah usaha kita !
Seberapa besar biaya yang kita keluarkan untuk membangun rumah, seberapa banyak keringat yang kita keluarkan untuk membangun keluarga yang bahagia ... sia-sialah semuanya itu jika kita tidak mengundang Dia sebagai ‘Master’ in our home !

Apa yang harus kita ‘bangun’ di dalam rumah kita ?

Make our home a :

1. Church
Mengapa hal ini penting ? Jika kita ‘make our home a church’, berarti hadirat Tuhan akan memenuhi rumah kita.
Ketahuilah bahwa anak-anak kita lebih banyak menghabiskan waktu di rumah daripada di gereja, sehingga atmosfer hadirat Allah di dalam rumah kita lebih memperngaruhi mereka dibandingkan program terbaik apa pun yang ada di gereja.

Untuk ‘make our home a church’, kita harus menjadikan relationship dengan Tuhan adalah prioritas utama di dalam keluarga kita.
Bangun Mezbah Keluarga dengan konsisten setiap hari, doa bersama, mempelajari Firman bersama-sama.

2. Restoration Center
Artinya sebagai “pusat pemulihan”.
Mengapa ? Karena setiap anggota keluarga akan menghadapi problem ketika berada di luar rumah. Seperti problem pekerjaan, konflik dengan orang lain, anak-anak mengalami problem di sekolah dengan teman-temennya. Walaupun mengalami banyak problem, ketika tiba di rumah, masing-masing anggota keluarga saling mendukung satu sama lain, peroblem yang ada bisa terselesaikan.
Rumah merupakan tempat untuk menyelesaikan konflik, tempat untuk belajar dari kesalahan yang ada juga bisa merupakan tempat untuk mempraktekkan kasih dan pengampunan setiap anggota keluarga.
Banyak anak-anak muda jatuh dalam narkoba, pergaulan yang buruk, karena hati mereka penuh dengan kepahitan dan sakit hati yang tidak terselesaikan di keluarga. Bagaimana dengan keluarga kita ?

3. Growth Center
Rumah adalah tempat untuk pertumbuhan, baik pertumbuhan secara fisik, mental, intelektual maupun pertumbuhan rohani dengan seimbang.
Menyediakan nutrisi yang baik bagi kesehatan keluarga, di mana justru banyak anak-anak jaman sekarang sudah dicemari dengan jajanan yang merusak kesehatan, makanan ‘junk food’ yang tidak baik bagi pertumbuhan.
Memberikan semangat bagi setiap anggota keluarga untuk mengejar mimpi dan masa depan yang penuh harapan.
“Tidak ada lingkungan yang lebih baik untuk membesarkan anak-anak dibandingkan keluarga yang takut akan Tuhan.”

4. Playground
Rumah adalah tempat untuk relaksasi, menikmati kesenangan bersama-sama, penuh dengan canda dan tawa, bermain dan rekreasi bersama.
Masing-masing anggota keluarga akan mendapatkan penghiburan yang sesungguhnya.
Pusat hiburan yang sesungguhnya adalah di dalam keluarga, bukan di cafe, diskotik .. yang merupakan hiburan semu.

5. School
Rumah adalah tempat untuk belajar. Apa yang dipelajari ?
Belajar mengenai nilai-nilai kehidupan, etika, karakter.
Anak-anak bisa belajar mengenai kehidupan rumah tangga melalui orang tuanya sebagai persiapan di masa mendatang.
Belajar memasak, belajar mengatur rumah tangga, mengekspresikan kreativitas, dsb.

6. Communication Center
Rumah adalah pusat komunikasi yang terbaik dan terpercaya. Tempat sharing dan curhat, di mana setiap anggota keluarga dapat terbuka untuk menyampaikan pikiran dan perasaan tanpa dihakimi.

7. Wedding Party
Kebahagiaan pernikahan biasanya hanya terjadi di pesta pernikahan dan bulan madu saja. Sesudah itu, pasangan akan menghadapi berbagai macam persoalan yang dapat menimbulkan konflik dan membuat keluarga menjadi tidak harmonis lagi.
Jangan biarkan itu terjadi. Pilihan ada di tangan kita !
Kebahagiaan dalam pernikahan tidak terjadi secara otomatis, tetapi perlu dipelihara sepanjang masa.
Marilah kita terus menciptakan dan memelihara suasana kebahagiaan pernikahan di rumah kita. Biarlah rumah kita menjadi tempat untuk saling mengekspresikan kasih dan berbagi keintiman.
Keluarga yang bahagia akan menghasilkan anak-anak yang bahagia pula.

8. Meeting Office
Biarlah rumah kita menjadi tempat untuk merencanakan kegiatan-kegiatan keluarga dan merancang strategi masa depan keluarga.
Banyak pasangan yang tidak mengetahui bahwa kebahagiaan dan masa depan keluarga memerlukan perencanaan.
Keluarga yang sukses tidak dapat terjadi secara kebetulan .... Sama seperti membangun rumah, pernikahan yang sukses adalah produk dari perencanaan yang cermat dan rancangan yang serius, bahan yang benar, nasihat yang baik dan kontraktor yang memenuhi syarat.

9. Museum
Jadikan rumah kita sebagai tempat untuk mengenang dan mengingat hal-hal yang telah Tuhan lakukan dalam keluarga kita. Beritakanlah kebesaran-kebesaran Tuhan kepada anak-anak kita turun-temurun.
Warisan apakah yang ingin kita turunkan kepada keluarga kita ? Warisan yang kekal ! Nilai-nilai Kerajaan Allah !
Buatlah foto-foto kenangan bersama dengan keluarga. Kenangan keluarga tidak akan berakhir selamanya !

10. House of Blessing
Jadikan rumah kita sebagai rumah yang memberkati orang-orang lain yang berkunjung. Mereka akan merasakan kehangatan, kasih dan penerimaan yang tulus. Make people feel at home !
Sediakanlah rumah kita sebagai tempat untuk memuji dan menyembah Tuhan bersama-sama, seperti ‘komsel’, tempat persekutuan orang-orang percaya, doa bersama, dll
Read More..

Friday, 15 August 2008

Investasikan Waktumu


“Aku sudah tak sabar lagi menunggu liburan kenaikan kelas, papaku janji kalo aku naik kelas, dia akan mengajakku liburan bersama dan kami akan pergi memancing di danau, kami akan naik perahu kecil, lalu berhenti di tengah untuk menunggu ikan untuk dipancing ....!”, cerita si anak pada seluruh temannya di kelas, sambil dia terus membanggakan ayahnya yang ahli dalam memancing. Mata si anak berbinar-binar saat menceritakan rencana liburan mereka.


Sejak janji itu diucapkan ayahnya 2 bulan yang lalu, si anak selalu menghitung hari, setiap hari dia melingkari kalender di rumahnya, hatinya sudah tidak sabar ! Setiap kali mengingat janji sang ayah, hatinya sangat bersukacita, bahkan kadang-kadang ibunya menjadikan janji itu sebagai senjata supaya sang anak tunduk. Seperti, kemarin sang anak tidak mau makan, karena kehabisan akal si ibu mendapat ide untuk mengancam, “Nanti kalo kamu tidak mau makan, ayah tidak jadi mengajak kamu memancing lho!”, ternyata ancaman itu ampuh juga. Intinya sang anak mau melakukan perintah ibunya asalkan acara memancing bersama ayahnya tetap terlaksana.

Tepat 1 hari menjelang hari yang dinanti-nantikan itu, sang ayah mengetuk pintu kamar sang anak, dilihatnya sang anak sedang sibuk mempersiapkan acara liburan spesialnya bersama sang ayah. Semua peralatan memancing sudah siap di kamar anaknya, sepatu, topi, baju, celana, handuk, umpan, alat pancing, dll. Dalam hati sang ayah merasa tak tega, tapi dia memberanikan diri berkata “Sayang..., papa mau minta maaf, kamu jangan kecewa yach, besok papa terpaksa harus membatalkan acara memancing kita ...”, Sang anak terbelalak tak percaya, matanya mulai berkaca-kaca, ” Papahhh !” seru anak tersebut. “Sayang...., kita kan masih ada hari lain, kebetulan besok papa ada rapat mendadak, dan ada tugas kantor yang sangat penting dan tidak bisa papa tinggalkan”.

Sang anak benar-benar sangat kecewa, dia naik ke tempat tidur dan menangis sejadi-jadinya. Sambil terisak-isak sang anak bertanya, “Papa, berapa sich gaji yang papa terima dari kantor per hari?” Sang ayah menjadi terheran-heran, tetapi untuk menghibur anaknya sang ayah menjawab sejumlah nilai nominal. Kemudian Si anak pergi keluar meninggalkan ayahnya yang masih duduk terheran-heran di kamar. Setelah 15 menit kemudian si anak datang, di tangannya menggenggam uang logam bercampur dengan uang kertas dan seluruh uang itu diletakkan di hadapan ayahnya.
Belum selesai kebingungan ayahnya, sang anak berkata, “Papa ini seluruh isi tabunganku yang sudah akku kumpulkan selama hampir 3 tahun, aku pecahkan celenganku barusan, ternyata jumlahnya pas untuk menggantikan gaji papa selama 1 hari untuk acara besok. Papa maukah papa pergi memancing bersamaku besok ???” dengan wajah memelas.
Sang ayah tidak kuat menahan haru, dipeluknya anaknya erat-erat.

Seringkali kita sebagai orang tua tidak sadar, bahwa WAKTU merupakan salah satu BAHASA CINTA untuk keluarga kita. Waktu adalah sesuatu yang sangat dirindukan oleh keluarga kita, terutama anak-anak. Tanpa sadar kita para orang tua telah mengambil banyak waktu yang harusnya dimiliki oleh anak-anak kita. Waktu yang semestinya menjadi MILIK sang anak, kita tukar dengan :

Kesibukan pribadi. Kisah diatas adalah kisah seorang ayah yang menukar waktu untuk anaknya dengan kesibukan pekerjaan. Pergi ke kantor saat anak masih terlelap tidur, pulang kantor tidak bertemu dengan anak karena anak sudah pulas tertidur. Adapula orang tua yang menukar waktu untuk anaknya dengan sibuk pelayanan di gereja, dari hari Senin sampai hari Minggu selalu ada kegiatan di gereja. Ada juga ibu ibu yang sibuk arisan, dan seandainya dia di rumah, tapi perhatiannya hanya tertuju pada acara-acara televisi. Sang anak dibiarkan berkembang dan bertumbuh begitu saja.

Adapula orang tua yang menggantikan waktu bersama anak dengan fasilitas permainan dan hadiah-hadiah. Beberapa waktu yang lalu, seorang artis yang terancam bercerai berkata, kelak kami berpisah anak-anak akan baik-baik saja. Katanya, bagi mereka yang penting ada play station untuk anak-anak sudah cukup. Bagaimana mungkin dia berpikir play station bisa menggantikan waktu anak bersama orang tua ? Banyak orang tua menukar waktu untuk anak dengan membelikan mainan-mainan yang menyukakan hati anaknya, dan menganggap hal itu sudah cukup membuat diam dan anak puas.

WAktu seringkali diganti dengan kebebasan tanpa kendali untuk anak-anak. Banyak kasus yang kita lihat, akibat ayah dan ibu sibuk bekerja, mereka sepertinya meng”excuse” anaknya berbuat sesuka hati. Mereka tidak tega untuk melarang anaknya meskipun tindakan si anak salah. Mungkin mereka pikir, sang anak sudah kecewa karena orang tua tidak punya waktu, masakan harus kecewa lagi dengan larangan dan aturan-aturan yang akan mengecewakan mereka, sehingga anak bebas tanpa kendali. Mereka menjadi orang tua yang sangat permisive yang tidak mampu menetapkan aturan, mendidik dan mendisiplin anak. Seperti mengijinkan anaknya bermain dan pergi sesuka hati tanpa batasan, berjalan-jalan tanpa batasan. Renungkanlah ... apa yang terjadi apabila anak-anak bertumbuh tanpa didikan ?

Dan .... hal-hal lainnya yang bisa menggantikan posisi orang tua. Suatu hari sepasang suami istri yang notabene keduanya lulusan luar negeri mengeluh, karena sekarang anaknya begitu hafal lagu-lagu dangdut di televisi sekaligus dengan gerakan-gerakannya yang “vulgar”. Belum lagi ketika anaknya demam, yang dipanggil-panggil si anak adalah “Siti”. Padahal sang ibu sudah membujuk sedemikian rupa agar si anak mau tidu di kamar bersama orang tua, tapi anaknya ngotot minta ditemani dan tidur bersama Siti. Menyedihkan bukan ? Ini dikarenakan sang orang tua memberikan anaknya diasuh, dididik oleh pembantu, atau suster dan sebagainya. Jadilah sang anak bertumbuh serupa dengan pengasuhnya.

Terkadang anak dijejalkan dengan berbagai macam kegiatan sehingga anak sibuk dan melupakan waktunya dengan orang tua. Semakin banyak les atau aktivitas, orang tua berpikir anak menjadi semakin hebat karena akan semakin diperlengkapi. Kegiatan-kegiatan tersebut memang baik untuk ketrampilan anak, tetapi hal-hal tersebut tetap tidak dapat menggantikan waktu yang seharusnya diberikan oleh orang tua kepada anaknya.

Kita sangat perlu menyediakan waktu untuk keluarga dan anak-anak kita, karena :

Waktu untuk keluarga itu TERBATAS.
Pengkotbah 3:1 menuliskan, “Untuk segala sesuatu ada masanya (waktunya) ....”Waktu berarti kesempatan yang terbatas (moment waktu selalu ada batas akhirnya). Pakailah waktu yang ada sebaik-baiknya untuk bersama keluarga selama Tuhan masih berikan kesempatan. Jangan sampai menyesal di kemudian hari !
Ada seorang ibu yang sangat sibuk dengan pekerjaannya, sehingga setiap hari putri kecilnya selalu dimandikan oleh susternya. Suatu ketika ... sang anak minta dimandikan oleh ibunya, tetapi ibunya selalu berkata, “ .... Nanti .... nanti ..... dan nanti .... !” Satu minggu berlalu, sang anak mengalami kecelakaan dan dipanggil oleh Tuhan. Dan sampai hari ini, sang ibu sangat menyesal karena tidak pernah memperoleh kesempatan lagi untuk memandikan putrinya.

Waktu untuk keluarga itu berharga dan mahal.
Dalam hidup ini kita harus membuat skala Prioritas untuk waktu yang kita pergunakan. Prioritas yang benar adalah : Tempatkan Tuhan sebagai yang pertama dan utama, Keluarga adalah prioritas kedua setelah Tuhan. Berikutnya adalah pekerjaan/karir/ bisnis, diikuti prioritas selanjutnya yaitu pelayanan. Jadi jangan menganggap remeh waktu untuk keluarga, karena hal itu penting di mata Tuhan.

Waktu untuk keluarga adalah Investasi bagi pertumbuhan keluarga.
Ibarat sebuah benih untuk menjadi pohon yang besar diperlukan waktu yang panjang. Tidak mungkin langsung/instant menjadi pohon yang besar, harus ada proses waktu yang harus dilewati. Demikian pula dengan keluarga kita, jika ingin keluarga kita bertumbuh semakin berkualitas, harus ada WAKTU yang Di-INVESTASIKAN. Mungkin kegiatan atau les baik untuk ketrampilan anak-anak kita, tetapi “kehadiran kita” sebagai orang tua sangat berdampak bagi anak untuk pengembangan kepribadiannya, rasa percaya dirinya, pembentukan karakternya dan anak lebih mengenal siapa dirinya.
Bukankah orang yang berhasil dalam hidupnya tidak hanya ditentukan berapa banyak ketrampilan yang dia miliki, tetapi justru sebagian besar ditentukan oleh karakter dan bagaimana ia memberi respon pada keadaan yang terjadi.
Jadi, semakin banyak waktu untuk keluarga berarti semakin banyak peluang keluarga untuk bertumbuh ke arah yang lebih baik.

Waktu untuk keluarga akan membuat kenangan yang tak terlupakan seumur hidup.
Kenangan terbentuk karena proses waktu !! Biarlah kita membuat kenangan indah dalam keluarga kita melalui waktu bersama keluarga. Seandainya kita harus membuat pilihan, apakah akan berekreasi bersama dengan keluarga, membeli furniture baru atau menyimpan tabungan yang banyak di dalam bank ? Pergilah berekreasi !!! Furniture bisa menjadi kotor, tergores dan akan berakhir suatu saat di gudang. Apabila kita terus menunggu waktu “nanti sampai kita punya uang yang cukup banyak …” kita tidak akan pernah sempat berekreasi, karena selalu akan merasa tabungan kita kurang banyak dan uang pun dapat habis terpakai. Tetapi kenangan tidak akan hilang selamanya, bahkan sampai kita tidak di bumi ini sekalipun kenangan akan tetap ada di hati anak-anak kita dan menjadi sebuah sejarah. Bayangkan kelak setelah mereka dewasa mereka akan tersenyum bahagia saat melihat album foto yang berisi liburan yang indah dan berkesan dengan kedua orang tuanya.
“ Kenangan lebih tak terhapuskan daripada tinta.” – Aninta Loos

Waktu untuk keluarga adalah sarana untuk membangun hubungan semakin erat.
Salah satu hal terpenting dalam membangun keluarga adalah HUBUNGAN, Hubungan hanya bisa terbangun oleh waktu kebersamaan.
Ada orang tua yang demi alasan keberhasilan anaknya kelak, sejak SD sudah mengirimkan anaknya sekolah ke luar negeri, atau mengasramakan anaknya sejak SD. Setelah dewasa, anaknya menjadi orang yang cukup sukses. Tetapi mereka tidak memiliki hubungan yang baik. Sang anak cenderung memberontak pada orang tua, mereka saling tidak mengerti keinginan masing-masing karena tidak adanya hubungan yang terjalin selama ini.
“ Tidak ada Waktu = Tidak ada Hubungan”

Apa yang kita pillih saat ini sebagai orang tua ?
Marilah kita menginvestasikan waktu yang berharga bagi keluarga kita.

Read More..

Tuesday, 25 December 2007

Waktu bagi Keluarga, Sebuah Investasi bagi Keluarga


“Time is Money” demikianlah kata dunia tentang waktu. Dan sering kali kita juga mendengar banyak orang “kekurangan waktu” untuk banyaknya kegiatan mereka.
Bahkan tidak jarang kita mendengar ada yang mengatakan “wah… saya sudah tidak punya waktu lagi untuk keluarga…”, “saya tidak sempet lagi bermain2 lagi dengan anak-anak….”, “ istri dan anak2 compalin nih…saya jarang bersama-sama keluarga…”, dll. Intinya adalah ada yang kekurangan waktu untuk keluarga atau bahkan tidak memiliki waktu yang cukup untuk keluarga lagi.
Jika memang ini, problem yang kita hadapi, kita perlu memperbaiki keadaaan ini supaya tidak mengganggu kebahagiaan dalam keluarga kita.

Kenapa kita harus memiliki waktu untuk keluarga?
Belajarlah dari Tuhan Yesus, Dia datang dengan misi menyelamatkan seluruh umat manusia, tetapi Dia masih mau memberikan waktu untuk keluarganya yang ada di bumi.
Luk 2:51 : Yesus menyediakan waktu untuk keluarga di bumi.

Ada 5 Alasan kenapa waktu untuk Keluarga itu PENTING…

1. Waktu untuk keluarga itu TERBATAS.
Pengkotbah 3 : 1 : “Untuk segala sesuatu ada masanya (waktunya) ....”
Waktu berbicara kesempatan yang terbatas (moment waktu selalu ada batas akhirnya). Pakailah waktu yang ada sebaik-baiknya untuk bersama keluarga selama Tuhan masih berikan kesempatan.

2. Waktu untuk keluarga itu berharga Mahal
Prioritas waktu dalam hidup kita harus benar. Prioritas yang benar adalah demikian :
Nomor 1 : Tuhan
Nomor 2 : Keluarga
Nomor 3 : Pekerjaan / Karier / Bisnis
Nomor 4 : Pelayanan
Keluarga ada dalam prioritas nomor 2 setelah Tuhan!!! Jadi waktu untuk keluarga itu penting dimata Tuhan.

3. Waktu untuk keluarga adalah Investasi bagi pertumbuhan keluarga
Sebuah ilustrasi : Sebuah benih menjadi pohon yang besar memerlukan waktu. Tidak mungkin langsung/instant menjadi pohon yang besar, harus ada proses waktu yang dilewati.
Demikian pula dengan keluarga kita, jiak ingin bertumbuh semakin berkualitas, harus ada WAKTU yang Di-INVESTASIKAN. Semakin banyak waktu untunk keluarga berarti semakin banyak peluang keluarga untuk bertumbuh.

4. Waktu untuk keluarga akan membuat kenangan (sejarah)
Kenangan terbentuk karena proses waktu !! Biarlah kita membuat kenangan indah dalam keluarga kita melalui waktu bersama keluarga. Kenangan tidak akan hilang selamanya, bahkan sampai kita tidak di bumi ini sekalipun kenangan akan menjadi sebuah sejarah.

5. Waktu untuk keluarga adalah sarana untuk membangun hubungan semakin erat.
Salah satu hal terpenting dalam membangun keluarga adalah HUBUNGAN, Hubungan hanya bisa terbangun oleh waktu kebersamaan.
“Tidak ada Waktu = Tidak ada Hubungan”

3 Prinsip Utama Manajemen Waktu untuk Keluarga :
1. Perencanaan Waktu
Buatlah perencanaan proyek istimewa untuk waktu keluarga.
- Rencanakan Acara : Liburan keluarga, makan bersama, proyek yang dilakukan bersama-sama di dalam rumah, dll
- Buatlah schedule waktunya & catat dalam agenda pribadi
- Persiapkan apa yang diperlukan untuk merealisasikan (Contoh : dana, kendaraan, perlengkapan, dll)

2. Berani berkata TIDAK untuk apa yang buka prioritas
Buatlah prioritas dan beranilah berkata “TIDAK” jika itu bukan hal yang menjadi prioritas.
Belajarlah menetapkan prioritas : Keluarga adalah Prioritas Nomor 2

3. Temukan PELUANG untuk waktu bersama keluarga
Terkadang kita tidak memiliki waktu keluarga karena kita tidak melihat peluang yang ada. Sebenarnya banyak peluang yang tercipta dari kegiatan rutin kita, untuk kita bisa bersama-sama dengan keluarga.

Inilah waktunya kita memperbaiki management waktu untuk keluarga kita..
Bangunlah keluarga yang berkualitas dengan waktu untuk keluarga yang seimbang.

Read More..

Keluarga Itu Sangat Berarti


Bagi Allah kehadiran sebuah keluarga itu sangat penting, ini terbukti dari campur tangan Allah secara langsung kepada terbentuknya keluarga yang pertama di bumi ini yaitu : keluarga Adam

Kejadian 1 : 27 – 28

5 Alasan Keluarga itu Sangat Berarti dimata Allah :

1. Tuhan menciptakan manusia pertama dalam sebuah Lembaga Keluarga (ayat 27)
Pada saat Tuhan menciptakan manusia, Dia telah merancangkannya dalam sebuah lembaga keluarga
Tuhan menyukai lembaga keluarga, maka Dia menyatakan diriNya dalam “konteks keluarga” (Bapa, Anak, dan Roh Kudus)
Kej 2:24 – Lembaga keluarga pertama yang diciptakan oleh Allah sendiri di taman Eden.


2. Tuhan menaruh TujuanNya dalam Keluarga (ayat 26)
Banyak keluarga yang dibangun tanpa dasar Tujuan Allah, mereka membangun keluarga dengan tujuan sendiri.
Tuhan memberikan Tujuan Allah pada sebuah keluarga. Tujuan ini yang membuat keluarga bertumbuh dan memiliki arah “menjadi lebih baik”dan menggenapi setiap rencana Allah dalam kehidupan kita dan keluarga.

3. Tuhan memberikan Berkat pertamaNya kepada Keluarga (ayat 28)
Ternyata berkat pertama yang diberikan kepada manusia, diberikan dalam lembaga keluarga.
Ada berkat khusus yang Tuhan siapkan bagi keluarga.
DalamYohanes 2 diceritakan bahwa Tuhan Yesus membuat mujizat pertamanya di sebuah pesta pernikahan (awal sebuah lembaga pernikahan)

4. Tuhan membangkitkan Generasi Penerus melalui sebuah Keluarga (ayat 28)
Kerinduan Tuhan adalah bangkitnya generasi penerus yang lebih baik, yang akan menguasai dunia bagi kerajaan Allah.
Keluarga adalah wadah untuk melahirkan, membangun, mempersiapkan para Pemimpin masa depan yang takut akan Allah.

5. Tuhan memberikan Kuasa/Otoritas atas dunia kepada Keluarga (ayat 28)
Otoritas atas dunia ini diberikan kepada Keluarga.
Jika keluarga kuat, maka gereja akan kuat, dan mampu menaklukkan dunia bagi Kristus.

Iblispun mengerti bahwa Keluarga itu Sangat berarti sehingga dia juga berusaha menghancurkan keluarga dengan berbagai cara.
Contoh : Disfungsi Peran Suami – Istri, Kekacauan Komunikasi, Konflik, Tujuan yang tidak jelas dalam menikah, permasalahan anak-anak, bahkan sampai Perceraian pernikahan…

Pertanyaan sekarang kepada kita……..

===Apakah Keluarga itu Sangat Berarti bagi Anda ??? ===
Read More..

Friday, 25 May 2007

Mezbah Keluarga Membentuk Rumah Berkat


“Sebab itu Daud tidak mau memindahkan tabut TUHAN itu ke tempatnya, ke kota Daud, tetapi Daud menyimpang dan membawanya ke rumah Obed-Edom, orang Gat itu.
Tiga bulan lamanya tabut Tuhan itu tinggal di rumah Obed-Edom, orang Gat itu, dan TUHAN memberkati Obed-Edom dan seisi rumahnya.
Diberitahukanlah kepada raja Daud, demikian: "TUHAN memberkati seisi rumah Obed-Edom dan segala yang ada padanya oleh karena tabut Allah itu." Lalu Daud pergi mengangkut tabut Allah itu dari rumah Obed-Edom ke kota Daud dengan sukacita “
2 Sam 6:10-12


Sebuah keluarga yang diberkati ditentukan oleh ada atau tidaknya Kehadiran Tuhan didalamnya. Jika Tuhan hadir dan tinggal didalamnya, maka pasti keluarga akan diberkati secara luarbiasa. Hal ini dibuktikan ketika Obed Edom membuka pintu rumahnya untuk kehadiran Tabut Allah (yang merupakan gambaran Kehadiran Tuhan – hadirat Tuhan) didalam rumahnya selama 3 bulan, dan itu membuat keluarganya diberkati secara luar biasa.


Bagaimana supaya kehadiran Tuhan nyata dalam keluarga?Yosua 24:15 : ‘….Tetapi aku dan seisi rumahku, kami akan beribadah kepada TUHAN!‘
BANGUNLAH MEZBAH KELUARGA
Apa itu mezbah keluarga ?
Mezbah keluarga adalah suatu moment perjumpaan dengan Tuhan secara bersama-sama satu keluarga yang dilakukan sebagai sebuah gaya hidup setiap hari.

Sebuah mezbah tidak berdiri dengan sendirinya, tetapi harus “dibangun”. Contoh :
- Nuh membangun mezbah (Kej 8:20)
- Abraham membangun mezbah (Kej 12;7, Kej 13:18)
- Ishak membangun mezbah (Kej 26:25)
- Yakub mendirikan mezbah (Kej 33:20)
- Musa mendirikan mezbah (Kej 17:15)
- Daud mendirikan mezbah (2 Sam 24:25 )

Prinsip membangun mezbah keluarga :

1. Suami adalah “Inisiator Pembangun Mezbah”Setiap orang yang membangun mezbah adalah seorang laki-laki (kepala keluarga). Banyak tokoh wanita di Alkitab tapi yang membangun mezbah selalu pria.
Inilah waktunya para Pria untuk berinisiatif membangun mezbah keluarga.
Ef 5 : 23 = Suami adalah Kepala

2. Komitmen Bersama adalah awal berdirinya sebuah mezbah
Perlu kesepakatan dan komitmen Suami, Istri dan Anak-anak untuk bersama-sama membangun mezbah keluarga setiap pagi. Dengan kesepakatan maka suami atau istri bisa saling mengingatkan dan saling menguatkan.
Mat 18:19-20 = kesepakatan membawa kuasa besar.

3. Perlu Korban dalam membangun mezbahSetiap mezbah hanya akan disebut mezbah jika ada korban diatasnya. Tanpa korban mezbah tidak berarti apa-apa.
Kej 8 : 20 = Nuh mempersembahkan korban diatas mezbah yang dibuatnya.

Korban memiliki arti sebagai berikut :

a. Waktu yang diprioritaskan
Jika Tuhan Yesus sudah memberikan yang terbaik, adalah hal yang seharusnya jika kita berikan waktu yang terbaik bagi Tuhan.
Waktu terbaik adalah pagi hari ( Maz 5:4, Mark 1:35 )

b. Tenaga yang maksimalHarus memiliki manajemen waktu yang baik untuk menghindari kelelahan fisik yang mengganggu untuk membangun mezbah.

c. Pikiran & Hati yang tertuju pada Tuhan
Pikiran dan hati jangan terfokus pada masalah-masalah kehidupan kita sendiri.

4. Membangun Mezbah adalah sebuah ‘Gaya Hidup’ bukan suatu ‘Event’Abraham membangun mezbah beberapa kali, contoh :
Kej 12:7, Kej 12:8, Kej 13:18, Kej 22:9
Ini artinya Abraham membangun mezbah tidak sekali-sekali (kadang-kadang), tapi dia membangun mezbah sebagai GAYA HIDUP!

5. Gunakan Sarana-sarana yang mendukung / membantu
Mezbah didirikan dengan bahan-bahan pembuatnya seperti : batu, kayu, dll. Perlu bahan-bahan yang mendukung.
Gunakan sarana yang membantu seperti :
o Buku saat teduh
o Bahan-bahan Pendalaman alkitab, dll


2 Pilar keseimbangan dalam Mezbah keluarga :Perlu 2 pilar mezbah yang harus dibangun dengan sebuah KESEIMBANGAN. Kedua-duanya adalah PENTING!
Pilar 1 : Mezbah pribadi
Pilar 2 : Mezbah Bersama

60 MENIT SETIAP HARI YANG MENGUBAHKAN HIDUP :10 menit : Penyembahan pribadi & doa pribadi
15 menit : Membaca & merenungkan Alkitab secara pribadi
10 menit : Penyembahan bersama-sama
15 menit : Membaca dan sharing Firman bersama-sama
10 menit : Saling mendoakan dan berdoa bersama-sama.

Dampak Mezbah Keluarga bagi hidup pribadi dan keluarga?
Kejadian 8:20 – Kej 9 :16

1. Hadirat Allah nyata dalam Keluarga : Ada kasih, sukacita, damai sejahtera dalam keluarga
Kej 8:21 = Ada hubungan manis antara Nuh dengan Tuhan

2. Berkat Allah nyataKej 9:1 = Allah memberkati Nuh

3. Hikmat dan Tuntunan Allah bagi kehidupan
Kej 9 : 1-9 = Allah memberikan tuntunannya kepada Nuh

4. Perlindungan dari serangan kuasa gelapKej 9:5 = Allah yang melindungi dan menjaga Nuh

5. Janji Allah nyata dalam kehidupan kita.Kej 9:9-11 = Allah menyatakan perjanjiannya dengan Nuh, sejak saat itu Nuh hidup dalam janji-janji Allah.

6. Keturunan akan hidup dalam berkat perjanjian Allah
Kej 9:9

7. Hidup dalam kekuatan anugrah Tuhan yang luar biasa.o Kekuatan Ekstra diwaktu menghadapi situasi buruko Kekuatan untuk melakukan perkara-perkara besar bersama Tuhan
Nuh adalah orang yang pernah mengalami kekuatan Anugrah Tuhan yang luar biasa.
Read More..

Monday, 30 April 2007

Tujuan Allah bagi Keluarga


Di dalam Kejadian 2 : 18 – 25 , kita dapat melihat bahwa INISIATIF untuk membentuk sebuah keluarga adalah inisiatif dari Tuhan.
Karena keluarga adalah unit yang Tuhan ciptakan, maka Tuhan mempunyai rencana yang indah dalam setiap keluarga.

Namun, banyak anak Tuhan yang tidak menyadari akan hal ini, sehingga terjadi kesalahan-kesalahan sebagai berikut :


1. Memiliki pola pikir "Apa Adanya"
Keluarga yang demikian sudah merasa 'puas', meskipun berjalan apa adanya, yang penting tidak bercerai, tidak selingkuh, dan merasa cukup karena sudah menjalankan tanggung jawab seperti memberikan nafkah bagi keluarga dan membesarkan anak-anak.

2. Memiliki perasaan "Kurang Berguna" bagi Kerajaan Allah
Banyak orang setelah menikah, memiliki pemikiran bahwa dulu saat masih 'single' mereka melayani di "Pemuda & Remaja / Youth ", mereka sangat menyala-nyala & berapi-api, tetapi ...... sekarang sudah tidak bersemangat lagi. Karena kesibukan dalam pekerjaan & keluarga, mereka merasa sudah tidak berguna lagi di dalam Kerajaan Allah.
Padahal, keluarga sangat penting di mata Tuhan, Tuhan memerintahkan kepada “keluarga” (Adam & Hawa) untuk mengambil alih dunia ( Kejadian 1:28 ).

3. Memiliki "prioritas" yang salah di dalam kehidupan. Seringkali keluarga menjadi prioritas yang terabaikan. Pekerjaan & pelayanan lebih menjadi perhatian & fokus dalam kehidupan seseorang. Kepentingan keluarga menjadi terabaikan, sebagai contoh : suami/isteri & anak-anak yang kurang mendapat perhatian, kurangnya kebersamaan di dalam keluarga,dsb. Urutan prioritas yang benar adalah sebagai berikut :
1.Tuhan
2.Keluarga
3.Pekerjaan
4.Pelayanan

Tujuan Allah bagi Keluarga

Sesungguhnya, keluarga adalah alat Tuhan untuk menggenapi misi Allah. Dan apabila keluarga "tidak memiliki" misi Allah, kita pasti akan merasa bosan, kita akan banyak mengalami masalah dalam keluarga, tidak dapat mengalami berkat-berkat Tuhan, dan tidak dapat memberi dampak kepada dunia.

Ada beberapa hal yang ingin Tuhan bangun di dalam sebuah keluarga, sebagai berikut :

1. Keluarga adalah dasar untuk membangun hubungan & persekutuan yang berpusatkan kepada Tuhan ( Ulangan 6:4-9 ).
Di dalam keluarga-lah, prinsip & dasar hubungan dengan Tuhan dan sesama diletakkan. Sebagai contoh, bagaimana seorang anak akan melayani Tuhan ataupun berinteraksi dengan sesama setelah ia dewasa tidak terlepas dari bagaimana pola asuh yang ia terima dari keluarganya dan sangat terpengaruh oleh prinsip-prinsip yang telah ditanamkan sejak masa kecilnya.

2. Karakter Ilahi ( II Timotius 1:5 ).
Betapa pentingnya kita memiliki standar Ilahi di dalam kehidupan keluarga. Standar Ilahi yang kita tetapkan saat ini, akan diwariskan kepada anak-anak kita dan kepada generasi berikutnya secara turun-temurun.

3. "Beranak-cucu" secara natural & rohani.
Kita akan mereproduksi anak-anak kita dan anak – anak rohani di dalam kehidupan kita. ( Kej 1 : 28 )

4. Berkuasa & memerintah secara rohani dan natural.
Tuhan memiliki rencana agar keluarga berkuasa menghentikan kerja iblis dan menempatkan bumi dalam kuasa rencana Allah. Tuhan memerintahkan untuk mengambil alih dan menguasai dunia ini sehingga memiliki dampak bagi dunia & memperluas kerajaan Allah di muka bumi ini. ( Kej 1 : 26 – 28 )

KELUARGA YANG KUAT MEMBANGUN MASYARAKAT DAN GEREJA YANG KUAT.
MASYARAKAT DAN GEREJA YANG KUAT MEMBANGUN KEBUDAYAAN YANG KUAT.
KEBUDAYAAN YANG KUAT MEMBANGUN NEGARA YANG KUAT.

Read More..